DARI KEGELISAHAN KE KESADARAN: URBAN SUFISME JADI ‘GERAKAN SUNYI’ REMAJA SIANTAR DI TENGAH KRISIS KOTA SIANTAR

Oleh:

1. Muhammad Dimas Arjen Bintaro
(Mahasiswa Progam Studi Ilmu Filsafat, Fakultas Agama Islam dan Humaniora
(FAIH) – Universitas Pembangunan Panca Budi ( UNPAB) – Medan.

2.Kiyai  Khalifah Dr. Muhammad Sontang
Sihotang, S.Si., M.Si (Kepala Laboratorium Fisika Nuklir Universitas Sumatera
Utara (USU)-Medan, Peneliti Pusat Unggulan Inovasi Ipteks (PUI) Karbon
Kemenyan, Program Studi (Prodi) Fisika-Fakultas Matematika & Ilmu
Pengetahuan Alam (FMIPA)-USU), Dosen Mata Kuliah Fisika Sawit USU, Dosen
Mata Kuliah Filsafat Ketuhanan, Urban Sufisme – Universitas Pembangunan Panca
Budi (UNPAB) -Medan.

https://linktr.ee/muhammadsontangsihotang

https://linktr.ee/sontangsihotang

Correspondence: [email protected]


Siantar,
2026
– Di
tengah riuhnya urbanisasi, tekanan sosial media, dan krisis makna hidup yang
semakin terasa di kalangan generasi muda, sebuah fenomena diam-diam tumbuh di
Kota Pematangsiantar: Urban Sufisme. Bukan sekadar tren religius, tetapi
sebuah gerakan spiritual reflektif yang menggabungkan filsafat tasawuf dengan
realitas kehidupan kota modern.

Fenomena
ini bukan tanpa dasar. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebangkitan
sufisme di wilayah urban merupakan respons atas krisis spiritual dan
alienasi sosial
yang dialami generasi muda perkotaan (Hakim, 2021; Sodik
& Sujibto, 2023
). Di kota-kota Indonesia, termasuk Siantar, remaja
mulai mencari makna di luar materialisme dan performativitas digital.


Filsafat Urban Sufisme: Spiritualitas di Tengah Fragmentasi
Kota

Urban
sufisme berpijak pada filsafat tasawuf klasik yang menekankan tazkiyatun
nafs
(penyucian jiwa), namun dikontekstualisasikan dalam kehidupan modern.
Tidak lagi identik dengan asketisme ekstrem, sufisme urban justru hadir sebagai
spiritualitas fleksibel dan adaptif.

Menurut
Howell (2002), urban sufisme berkembang sebagai bentuk “depth spirituality”
bagi masyarakat kosmopolitan yang mengalami kekosongan makna di tengah
modernitas. Sementara itu, konsep “kesalehan aktif” dari Asef Bayat yang
diadaptasi dalam studi sufisme urban menunjukkan bahwa spiritualitas kini tidak
hanya bersifat individual, tetapi juga sosial (Anas et al., 2025).

Di
Siantar, filsafat ini diterjemahkan oleh remaja dalam bentuk sederhana:
refleksi diri, komunitas dzikir, dan aktivitas sosial berbasis empati.


Konsep & Teori: Dari Krisis Identitas ke Transformasi
Diri

Secara
teoritis, urban sufisme dapat dipahami melalui tiga pendekatan utama:

1.   
Teori
Krisis Spiritual Urban

2.   
Teori
Identitas Religius Generasi Z

3.   
Neo-Sufisme
& Digital Spirituality

Menariknya,
penelitian juga menunjukkan bahwa sufisme urban sering menjadi alternatif dari
formalisme agama yang kaku, dengan pendekatan yang lebih inklusif dan emosional
(Sodik & Sujibto, 2023).


Program Kerja: Dari Majelis ke Ruang Publik Kota

Di
Siantar, urban sufisme berpotensi dikembangkan melalui program kerja strategis
yang menyasar remaja:

  • “Ngopi Sufi” (Ngobrol Pikiran
    & Hati)

    Diskusi santai tentang makna hidup, kesehatan mental, dan spiritualitas.

  • Kelas Dzikir & Mindfulness
    Islami

    Integrasi antara praktik tasawuf dan teknik psikoterapi modern.

  • Urban Retreat

    Kegiatan refleksi diri di ruang alam sekitar kota.

  • Sufi Creative Lab

    Ekspresi seni (puisi, musik, konten digital) berbasis nilai spiritual.

Program-program
ini selaras dengan temuan bahwa sufisme urban berkembang melalui komunitas
informal dan pendekatan kreatif
(Rijal, 2018).


Kegiatan Nyata: Gerakan Sunyi yang Berdampak

Implementasi
kegiatan urban sufisme tidak harus formal. Justru kekuatannya terletak pada
kesederhanaan:

  • Majelis dzikir anak muda
  • Gerakan sedekah komunitas
  • Kampanye “slow living” di media
    sosial
  • Sharing circle tentang
    kecemasan dan makna hidup

Penelitian
menunjukkan bahwa praktik seperti dzikir dan refleksi diri memiliki dampak
signifikan terhadap kesehatan mental dan ketenangan psikologis (Dzakiyah,
2020
).


Aplikasi Berdampak: Dari Spiritualitas ke Transformasi
Sosial

Urban
sufisme bukan hanya soal religiusitas, tetapi juga transformasi sosial.
Dampaknya meliputi:

  • Penguatan kesehatan mental
    remaja
  • Reduksi perilaku destruktif
    (hedonisme, nihilisme)
  • Peningkatan empati sosial dan
    solidaritas komunitas
  • Pembentukan identitas diri yang
    lebih stabil

Fenomena
ini juga menunjukkan bahwa remaja tidak anti-agama, tetapi menuntut pendekatan
yang lebih autentik dan relevan
.


Siantar sebagai Laboratorium Urban Sufisme?

Dengan
karakter kota yang tidak terlalu besar namun cukup dinamis, Pematangsiantar
memiliki peluang menjadi model pengembangan urban sufisme berbasis komunitas.
Tidak seperti kota metropolitan, pendekatan di Siantar bisa lebih organik,
berbasis relasi sosial yang kuat.

Pertanyaannya
bukan lagi apakah urban sufisme relevan, tetapi:

apakah kota siap memfasilitasi ruang-ruang sunyi bagi generasi yang lelah
dengan kebisingan dunia?

(function(w,q){w[q]=w[q]||[];w[q].push([“_mgc.load”])})(window,”_mgq”);

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *