Kategori: Teknologi

  • PERKEMBANGAN SUPERKONDUKTOR SUHU TINGGI DI ERA 4.0

    PERKEMBANGAN SUPERKONDUKTOR SUHU TINGGI DI ERA 4.0

     

    oleh
    :

    Prof.Dr.Drs.Syahrul
    Humaidi, M.Sc, (Guru Besar Prodi Fisika, Ketua  Program Pasca Sarjana S-2
    (Magister) dan S-3 (Doktor Ilmu Fisika) – FMIPA USU-Medan.

    (Tulisan
    ini merupakan Pidato Pengukuhan Guru Besar Jabatan Guru Besar
    Tetap, dalam Bidang Fisika Superkonduktor,pada Fakultas
    Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, USU, disampaikan pada Rapat
    Terbuka, Universitas Sumatera Utara, Gelanggang Mahasiswa USU,
    25 Februari 2025).

    editor
    ; 

    2.
    KH. Dr. Muhammad Sontang Sihotang S.Si, M.Si*.(Kepala Laboratorium Fisika
    Nuklir, Prodi Fisika, Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam, Peneliti
    Pusat Unggulan Ipteks Karbon & Kemenyan-Universitas Sumatera Utara (USU)-Medan,
    Peserta Pra Asesmen Mandiri (PAM) Indonesia Timur Gelombang VI, Mantan
    Wartawan / Kolumnis / Reporter, Kepala Biro dan Wilayah, Wakil Pemimpin
    Redaksi, Wakil Pimpinan Umum : dahulu & sekarang @ Tabloid Suara USU-Medan, Tabloid
    Bintang Sport Film (BSF)-Medan, Garuda-Harian Sore-Medan,Waspada-Medan,Tabloid
    Duta Bangsa- Jakarta, Dayak News-Palangkaraya,Kalimantan Tengah,GarudaNews-Medan,Portal Medan-Medan,Mabesnews-Jakarta, WasantaraNews-Medan,
    KomandoTopNews-Medan.

    PENDAHULUAN

    Revolusi
    Industri 4.0 yang ditandai dengan adanya perkembangan yang pesat di dunia IT
    memiliki  kata kunci; otomasi, analisis big data, teknologi
    robot, artificial
    intelligence (AI)
     dan internet of things (IoT). Kita
    masih berusaha untuk beradaptasi dengan 4.0, ternyata wacana mengenai revolusi
    berikutnya, Revolusi Industri 5.0 sudah memuliai titik startnya.

    Industri
    4.0 mempertegas integrasi diantara sistem fisika, sistem digital dan sistem
    biologi, yang diapplikasikan untuk kehidupan manusia dan peradaban manusia.
    Perluasan akan kemana arah transformasi ini akan mempunyai
    dampak positip tergantung bagaimana kita mampu mengendalikan semua resiko dan
    peluang yang ada di masa datang.  Tentu saja, untuk berhadapan dengan
    tantangan industri 4.0 kita memerlukan persiapan akan 4 hal: berpikir kritis,
    kreativitas, komunikasi dan kolaborasi. Dengan demikian, sebagai sebuah
    institusi, maka Universitas Sumatera Utara harus terlibat dan berperan aktif
    sebagai bagian dari kecenderungan kemajuan industri.

    Bagaimana
    dampak Revolusi Industri 5.0 dan terhadap pengembangan ilmu dasar, ilmu terapan
    dan ilmu bahan? Tentu saja Revolusi Industri 4.0 dan 5.0 sangat berdampak saat
    ini dan di masa depan. Meskipun Revolusi Industri 5.0 lebih menitikberatkan
    pada integrasi antara teknologi canggih seperti AI, IoT, dan teknologi robot teknologi
    dengan keahlian manusia dan inovasi yang dapat mendorong perkembangan sistem
    produksi yang lebih efisien, fleksibel, berkelanjutan dan meningkatkan
    kesejahteraan, namun ianya mempunyai korelasi yang sangat erat dengan para
    insinyur dan saintis serta rekayasa bahan.  Secanggih apa pun
    teknologi dewasa ini, pastilah ada suatu sistem yang membangunnya
    dan memerlukan bahan dasar dan komponen utama sebagai pendampingnya.

    Kemajuan
    teknologi dewasa ini tidak terlepas dari pengetahuan dan perkembangan ilmu bahan.
    Karakteristik bahan dikaji secara teoretik dan diejawantahkan dalam bentuk
    produk. Baik produk terbatas  sebagai  bahan kajian maupun
    produk komersial untuk dikonsumsi. 

    BAHAN
    SUPERKONDUKTOR

    Menurut Ilmu
    fisika, bahan dibagi atas 3 kelompok besar berdasarkan sifat
    listriknya:

    1).
    Bahan isolator (Tidak dapat menghantarkan arus listrik);

    2).
    Bahan Konduktor (Dapat dialiri arus listrik)

    3). Bahan Semikonduktor
    (bersifat antara 1 dan 2)

    4).
    Bahan Superkonduktor (Tidak mempunyai sebarang hambatan Listrik).

    Bahan-bahan
    tersebut tentu saja mempuyai karakteristik yang tersendiri pula akibat adanya
    campur tangan energi luar yang bekerja padanya. Bahan dengan kategori isolator
    dan konduktor sudah dipakai secara luas di awal era teknologi. Bahan
    semikonduktor merupakan pengembangan bahan isolator dan konduktor. Bahan ini
    mempunyai sifatn yang unik, bersifat isolator pada suhu rendah dan menjadi
    konduktor pada suhu yang lebih tinggi. Bahan ini secara luas digunakan untuk switching,
    pengontrolan otomatis dan sebagainya. Sedangkan bahan superkonduktor
    merupakan bahan baru. Ketika pertama kali ditemukan oleh Onnes (1911/ilmuwan
    Belanda), sifat bahan superkonduktor bertentangan dengan sifat bahan yang umum
    dan bertentangan dengan teori Fisika saat itu. Seiring dengan berjalannya
    waktu, superkonduktor menjadi bahan yang spektakuler dan menjadi bahan yang
    seksi untuk dikaji oleh peneliti. Sifat khas pada bahan superkonduktor adalah
    adanya Temperatur kritis (Tc), temperature yang terus menerus diupayakan
    meningkat oleh para saintis dan ilmuwan. Jika pada awal penemuannya nilai Tc
    sangatlah rendah, maka ke depan, target penelitian untuk bidang superkonduktor
    adalah upaya perburuan nilai Tc yang lebih tinggi. Ini
    disebabkan pembatas signifikan untuk aplikasi Teknik bahan superkonduktor
    ini adalah nilai Tc yang masih rendah. Berikut disajikan sifat
    rintangan/hambatan Listrik dengan suhu pendinginan pada keempat bahan
    listrik tersebut.

    Grafik
    pada Gambar 1 menunjukkan bahwa bahan logam akan menurun nilai hambatannya
    seiring dengan penurunan temperatur. Berbeda dengan bahan semikonduktor dan non
    konduktor yang nilai hambatannya semakin tinggi jika didinginkan. Seperti kita
    lihat pada gambar tersebut, untuk bahan superkonduktor, terjadi penurunan
    hambatan yang drastis pada temperatur Tc. Gejala ini yang kita kenal dengan
    superkonduktivitas. Gejala ini terjadi pada temperatur yang sangat dingin. Hal
    ini memuat bahan superkonduktor menjadi bahan yang sangat mahal sampai saat
    ini. Karena untuk proses pendinginan, diperlukan gas Helium cair
    (superkonduktor Suhu Rendah-LTS) dan digunakan gas Nitrogen cair
    (superkonduktor Suhu Tinggi-HTC).

    Walaupun
    untuk mencapai temperatur kritis yang tinggi memerlukan biaya besar. Para
    periset di berbagai negara terus berupaya melakukan pengembangan riset di
    bidang superkonduktor ini. Beberapa aplikasi di bidang industri seperti MRI,
    kereta Maglev di negara maju. Kabel pembawa tenaga listrik dan lainnya. Melihat
    perkembangan yang sangat menjanjikan, India sudah mempunyai proyek kereta
    Maglev, sementara kita tahu bahwa India masih tergolong negara berkembang.
    Berita baiknya, pemerintah Indonesia menyadari fenomena perkembangan global
    dunia. BRIN sebagai pusat Ilmu Pengetahuan dan Riset, memulai memasukkan agenda
    riset bidang superkonduktor sebagai riset unggulannya. Penelitian tentang
    superkonduktor di BRIN dimulai pada 2005 (20 tahun lalu) sementra Malaysia
    sudah memulainya di sekitar awal 1980 (40 tahun lalu). Pada awalnya, bahan
    dasar yg dikembangkan di BRIN adalah Cu/Nb3Sn, lalu BiPbSrCaCuO,
    FeSeTe, MgB2 dan lainnya. Umumnya periset di BRIN mengadopsi perkembangan
    superkonduktor dari Jepang. 


    Alhamdulillah, berita baiknya saat ini alat-alat
    penelitian yang tersedia di BRIN meliputi preparasi sample:
    timbangan presisi elektrik, High Energy Milling, Mortar Mesin press 100 ton,
    Furnace vacuum furnace, mesin rolling, drawing, dll. Sedangkan alat untuk
    karakterisasi diantaranya: XRD, SEM, TEM, HRTEM, Cryogenic magnet,
    magnetometer, dll. BRIN terus bekerjasama dengan universitas terkemuka, baik
    dalam maupun luar negeri termasuk dengan Fakultas MIPA USU, salah satunya
    melakukan penelitian kolaborasi bidang superkonduktor ini.

    PERKEMBANGAN BAHAN SUPERKONDUKTOR                                                                                                                           

    Gambar
    2 menyajikan Sejarah penemuan bahan superkonduktor dan prestasi yang
    didapat hingga 2015. Selama 1 dekade terakhir, belum ada rekord temperatur
    kritis tertinggi selama 1 dekade terakhir. Penemuan diantara tahun 2015 dan
    2020 masih dalam perdebatan karena menggunakan tekanan udara yang sangat
    tinggi. Sejak awal penemuannya bahan dasar masih berupa atom tunggal atau
    campuran sederhana. Semakin lama, komposisi bahan dasar semakin kompleks. Beberapa
    kelompok bahan superkonduktor berbasis bahan dasar (untuk superkonduktor suhu
    tinggi) diantaranya: YBCO, Bisco, TBCCO dan lainnya.  Dari Gambar
    2 dapat dilihat bahwa titik didih nitrogen cair merupakan pembatas
    antara bahan superkonduktor suhu rendah dengan suhu tinggi {(77K = (−196.2 °C=
    (−321.1 °F}. Pembuatan bahan superkonduktor umumnya  dalam
    keadaan normal (tekanan udara dan suhu ruang standard).  

    Yttrium
    barium copper oxide (YBCO) merupakan campuran bahan superkonduktor
    bertemperatur kritis tinggi.Campuran ini termasuk dalam kelompok campuran kimia
    kristal. Bahan superkonduktor ini mempunyai temperatur kritis sekitar 93K (−180.2 °C;
    −292.3 °F). Kebanyakan campuran YBCOmempunyai rumus umum: YBa2Cu3O7−x (dikenal
    sebagai  Y-123). Bentuk lainnya sesuai dengan perbandingan atom
    Y: Ba: Cu; seperti YBa2Cu4Oy (Y124) ataupun or Y2Ba4Cu7Oy (Y247).

    Dari
    Gambar 2 juga dapat kita lihat bahwa beberapa bahan masih dapat dikembangkan
    lebih lanjut. Bahan superkonduktor berbasis Talium, masih sangatmungkin
    untuk dikembangkan baik untuk sifat fisik maupun sifat listriknya. Kendala
    bahan ini adalah ianya beracun dan termasuk dalam unsur Radioaktif. Dengan
    demikian, walau mempunyai temperatur kritis yang cukup tinggi, perlu
    kehati-hatian dalam pembuatannya.

    Penelitian
    tentang bahan superkonduktor masih dan terus akan dikembangkan di seluruh
    dunia. Tujuan utamanya tentu saja mencari temperatur kritis tertinggi.
    Disamping itu, penelitian juga diarahkan untuk memperbaiki kinerja (erformansi)
    dari bahan-bahan yang telah dikenal pasti sebelumnya.


    Berbagai
    upaya terus dilakukan untuk meningkatkan temperatur kritis di seluruh
    dunia.   Ada peneliti yang melakukan modifikasi pada waktu
    pembuatan sampel (salah satu paten sederhana saya di 2019). Kebanyakan meneliti
    tentang perananan pendop. Pada February 1987, kelompok peneliti di Alabama (Wu)
    and Houston (Paul Chu) menemukan suhu transisi di atas titik didih Nitrogen
    cair (77K). Mereka inilah sebagai penemu pertama superkonduktor suhu tinggi
    pada bahan campuran YBa2Cu3O6+δ (123) dengan Tc sekitar 90K.Setelah
    penemuan tersebut, aplikasi teknik dari bahan ini sangat berpotensial
    dikembangkan lebih lanjut lagi. Bahan lain yang juga menjadi primadona objek
    penelitian bidang superkonduktor ini adalah Bi-Sr-Ca-Cu-O dan deret-deret
    homolognya dalam peningkatan temperature kritis.

    Superkonduktovitas
    pada bahan superkonduktor berbasis talium ditemukan oleh peneliti dari
    Universitas Arkansas oleh Sheng dan Hermann pada awal 1988. Mereka mendapatkan
    Tc sekitar 125K (-275oC) pada campuran Tl-Ba-Ca-Cu-O. Sedangkan untuk campuran
    senyawa Bi-Sr-Ba-Ca-Cu-O sekitar 110K(-290oC) dilaporkan oleh Maeda. Pencapaian
    ini masih bertahan hingga saat ini. Pada 1993 dilaporkan suatu temuan
    spektakuler dari Houston, senyawa Hg-Ba-Ca-Cu-O telah menunjukkan temperature
    kritis tertinggi sekitar 160K (-240oC).


    Ketertarikan
    penulis terhadap bidang superkonduktor dimulai sejak 2010. Saat itu penulis
    tergabung dengan kelompok peneliti di Jabatan Fizik terapan, Universiti
    Kebangsaan Malaysia (UKM) Malaysia (tempat penulis melakukan riset untuk
    penyelesaian disertasi). Kelompok kami menitik beratkan penelitian dengan bahan
    dasar talium. Bagaimanapun juga bahan superkonduktor lain juga kami pelajari
    dan teliti. Beberapa topik penelitian merupakan pengembangan penelitian
    sebelumnya. Kerjasama dengan BRIN RI dalam Upaya mencari bahan dasar baru terus
    kami lakukan.

    APPLIKASI
    SUPERKONDUKTOR

    Dewasa
    ini bahan superkonduktor diapplikasikan dalam kehidupan di bidang teknologi
    maju. Meskipun masih relative mahal, beberapa bidang keteknikan yang
    menggunakan bahan superkonduktor disajikan dalam Gambar 3. Walaupun
    temperatur operasinya masih sangat rendah, beberapa bahan superkonduktor sudah
    diapplikasikan dalam bidang kehidupan sehari-hari. Untuk bidang penelitian:
    Akselerator elektron,

    Akselerator partikel adalah
    mesin yang menggunakan medan elektromagnetik untuk
    mendorong partikel bermuatan ke
    kecepatan dan energi yang sangat tinggi untuk menahannya dalam sinar yang
    terdefinisi dengan baik . Akselerator kecil digunakan untuk penelitian
    mendasar dalam fisika partikel . Akselerator juga
    digunakan sebagai sumber cahaya sinkrotron untuk
    studi fisika benda terkondensasi .
    Akselerator partikel yang lebih kecil digunakan dalam berbagai macam aplikasi,
    termasuk terapi partikel untuk tujuan onkologi ,
    produksi radioisotop untuk
    diagnostik medis, implanter ion untuk pembuatan semikonduktor ,
    dan spektrometer massa akselerator untuk
    pengukuran isotop langka seperti radiokarbon .

    Kebutuhan
    kawat supekonduktor untuk penyaluran energi listrik bertengangan tinggi terus
    meningkat. Apalagi di masa terbatasnya sumber energi. Maka efisiensi, termasuk
    dalam distribusi tenaga listrik harus diupayakan semaksimal mungkin. Effisiensi
    yang sangat tinggi hanya dapat disediakan oleh kawat berbahan superkonduktor.


    Spektrometer NMR
    (Nuclear Magnetic Resonance) adalah perangkat alat yang digunakan
    untuk mempelajari struktur molekul, interaksi molekul, kinetika atau dinamika
    molekul, dan komposisi campuran biologi, larutan hasil sintesis, atau
    komposit. Yang menjadi kelebihan Spektrometer NMR adalah, alat ini
    mempunyai  kemampuan untuk analisis yang bersifat tidak merusak
    sampel (non-destructive); sehingga menjadi peralatan yang sangat diminati oleh
    banyak peneliti.

    Bidang
    Kedokteran: MRI (Magnetic Resonance Imaging) adalah teknologi pencitraan
    medis yang memanfaatkan medan magnet kuat, dan gelombang radio untuk
    menghasilkan gambar rinci dari organ dan jaringan tubuh pada manusia. Medan
    magnet kuat dapat dihasilkan oleh bahan superkonduktor. Tidak seperti
    sinar-X atau CT Scan yang menggunakan radiasi, MRI bekerja dengan prinsip memanipulasi
    partikel dalam tubuh (proton) manusia dengan menggunakan medan
    magnet. Prinsip kerja ini akan menghasilkan gambar berdasarkan perbedaan
    sifat fisik dalam jaringan tubuh. Oleh karena itu, MRI sering digunakan
    untuk memeriksa bagian vital tubuh seperti otak, bahagian sumsum tulang
    belakang dan jantung serta digunakan pula untuk mendeteksi jaringan lunak
    lainnya. Dengan demikian MRI merupakan perangkat alat primadona di bidang
    kedokteran. Hal yang masih menjadi penghalangnya adalah mahalnya biaya
    operasional karena temperatur kritis yang masih rendah. Sehingga sampai saat
    ini pemeriksaan MRI masil relatif mahal. Bahan superkonduktor MgB2 (dengan
    Tc sekitar 39K) merupakan bahan utama pada applikasi MRI. Penelitian terus
    menerus dilakukan untuk bahan MgB2 ini. Meskipun belum berhasil menaikkan
    temperatur kritisnya, sifat lain telah dapat diperbaiki dengan perlakuan atau
    treatment yang diberikan. Dengan kebutuhnan peralatan maju (smart) di era 4.0
    ini, diharapkan biaya operasional dapat semakin direduksi.

    Di
    bidang transportasi,  transportasi dengan kereta api cepat Maglev
    nya, kereta api yang melayang di atas landasan rel  selama perjalan
    dengan kelajuan tinggi (500 km/jam), kelajuan yang setara dengan pesawat udara
    ukuran sedang. Di bidang energi, adanya kabel-kabel transmisi tegangan tinggi
    yang menggunakan kawat superkonduktor. (ms2)

    Tulisan
    ini terdiri dari 2 bagian, (Bagian 1, Pendahuluan, Bahan Superkonduktor, Perkembangan
    Bahan Superkonduktor dan Aplikasi Superkonduktor) sedangkan Bagian 2 nantinya :
    Metode Pembuatan Superkonduktor, Beberapa Hasil Penelitian Bidang
    Superkonduktor dan Kesimpulan).